Sabtu, 18 April 2009

cerita rakyat Pacitan

Mengenal budaya daerah dapat juga melalui kisah-kisah yang pernah dituturkan oleh para pendahulu atau berupa babad. Di bawah ini, saya berbagi sekelumit kisah dalam babad Pacitan dengan harapan pengunjung sekalian dapat memperoleh manfaat atau sekedar menjawab rasa keingintahuan akan budaya Pacitan. Semoga bermanfaat….



SENTONO GENTONG

Puncaknya Gunung Karang yang letaknya di sebelah barat teluk Pacitan ada bekas petilasan (tempat tinggal) orang jaman dulu kala yang berupa Genthong berisi balung (tulang) dan diberi cungkup maupun tungku kecil tanpa tiang, maka tempat ini yang dinamakan SENTONO GENTHONG. Sedangkan genthong tersebut terbuat dari tanah liat dan warna genthong masih kelihatan baru seperti tidak ada tiangnya, ternyata tiangnya ada tapi masing-masing tiang itu kira-kira hanya dua kaki (dua jengkal) dan bentuknya tiang itu bulat dari jenis kayu jati. Sedangkan atap maupun wuwung dan talinya terdiri dari keduk duren (serabut pohon aren) warna maupun bentuknya balung (tulang) yang ada di dalam genthong putih dan gilik atau bulat panjang, seperti tulang-tulang yang lain. Menurut cerita juru kunci tidak sama, dari segi masing-masing orang yang melihatnya tidak sama, misalnya orang yang datang itu melihat balung atau tulang itu terlihat besar dan panjang dan berdiri alamat bahwa orang yang melihat tersebut cita-citanya akan terkabul. Tetapi sebaliknya, apabila ada orang lain melihat isi genthongitu dan lubangnya kering tidak ada air dan balung (tulang) kelihatan glundhung (tidak berdiri) dan kelihatan kecil, maka alamat orang itu akan menjumpai hal-hal yang tidak terkabul dan umurnya pendek.

Pada saar tahun Balenda 1871 balung (tulang) itu hilang serta lambungnya genthong sebelah selatan bocor (betol), adapun hilangnya balung (tulang) tadi tidak jelas, ada yang menceritakan bahwa katanya balung itu diambil Tuan Lamrez, juru tulis kantor (ongko) di Pacitan.

Walaupun sekarang balung itu sudah musnah, tetapi keadaannya orang yang datang berziarah ke tempat itu tidak bedanya seperti pada saat balung itu masih ada, jadi masih banyak juga yang datang ke tempat itu. Adapun yang jadi juru junci di Sentono Genthong orang di dusun Dadapan, jaraknya dusun Dadapan dengan Sentono Genthong kurang lebuh ada tiga perempat pal.

Munurut juru kunci bahwa Sentono Genthong itu katanya tumbalnya Pulau Jawa sedangkan yang numbali saat itu katanya Sultan di Negeri Ngerum. Adapun dongengnya tersebut di bawah ini.

Pada zaman dahulu kala, pulau Jawa masih kosong belum ada yang menempati. Tidak satupun manusia di pulau Jawa ini, di sana-sini semua hanya terdapat hutan dan rawa-rawa. Pada suatu hari Sultan Ngerum menyuruh kerbat Negara (punggawa kerajaan) atau rakyatnya laki-laki maupun perempuan membabat atau membuka pulau Jawa ini. Perintah Sultan Ngerum tadi ternyata terlaksanan atau dilaksanakan oleh rakyat atau penduduk kerajaan Ngerum dan membuat gunugn-gunugn, hutan-hutan dimana-mana dan saat itu pulau Jawa sangat keramat atau angker sekali, menjadi kerajaannya bangsa setan, jin, dan lain-lain yang tidak dapat dilihat oleh manusia. Oleh karena itu, wadto bolo dari Ngerum tadi mempunyai ilmu untuk menghilangkan atau menyingkirkan bangsa lelembut atau makhluk halus yang ada di situ. Tetapi wadyo bolo dari Ngerum tadi juga banyak yang mati akibat dari makhluk-makhluk halus tersebut. Selanjutnya Sultan Ngerum memerintahkan dan menyuruh seorang Pandita untuk menumbali (syarat) pulau Jawa, maksudnya tanah yang sangar dan kayu-kayu yang angker dapat tawa atau dihindari oleh makhluk-makhluk halus.

Selanjutnya Sultan Ngerum memerintahkan Punggawa Kerajaan beserta dengan wadyo bolonya datang ke tanah pulau Jawa melihat hasil babatan-babatan yang sudah pernah dikerjakan dan ternyata pulau Jawa ini dapat ditempati dan didirikan rumah sampai sekarang ini.

Kisah tersebut, mana yang benar mana yang salah, memang tidak mudah untuk membuat pedoman, tetapi yang jelas Sentono Genthong itu adalah bekas tempat tinggalnya orang jaman dahulu kala, dilihat dari keadaannya seperti itu, benar-benar Sentono Genthhong adalah tempat keramat, sebab wujudnya genthong masih kelihatan baru dan warna merahnya masih terlihat aslii dan tidak terkena lumut maupun kotoran –kotoran yang lain, seperti genthong yang baru dipakai, padahal sudah ratusan tahun yang lalu.





CEPROTAN

(Cerita Rakyat dari Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan)

Dahulu kala, di suatu daerah yang masih berupa hutan belantara dimana jalanan masih berupa jalan setapak dan penduduk yang masih jarang ditemukan datanglah seorang tua yang membuka hutan belantara tersebut. Orang tua itu bernama Ki Godek.

Ki Godek berniat akan membuka hutan tersebut guna dijadikan tempat tinggal dan tanah pertaniannya. Dengan segala kesaktian, keberanian, dan ketabahan yang dimilikinya, Ki Godek memulai membuka hutan belantara tersebut.

Ketika Ki Godek hampir selesai membuka hutan, datanglah sepasang saudara perempuan nan elok rupawan menghampiri Ki Godek. Melihat kedatangan dua wanita cantik tersebut, Ki Godek memilih untuk beristirahat sebentar. Kemudian terjadilah perbincangan antara Ki Godek dan dua wanita tersebut.

Ternyata nama wanita tersebut adalah Sekartaji dan Sukonandi. Mereka berdua berasal dari Kediri. Keduanya telah berjalan sangat jauh, oleh karena itu Sekartaji memilih untuk beristirahat di hutan yang baru dibuka olah Ki Godek namun Sukonandi, kakak Sekartaji, memilih untuk meneruskan perjalanan.

S ekartaji yang kelelahan merasa sangat haus. Dia meminta tolong kepada Ki Godek untuk mencari air kelapa untuk diminum. Melihat keadaan Sekartaji yang kehausan, timbul rasa iba pada diri Ki Godek. Akhirnya, Ki Godek memutuskan mencari air kelapa untuk Sekartaji.

Karena di hutan milik Ki Godek tidak terdapat pohon kelapa, Ki Godek harus mencari pohon kelapa di suatu tempat yang jauh sekali dari lokasi hutannya, yaitu di tepi pantai selatan yang sekarang bernama Desa Kalak. Sebelum pergi, Ki Godek meminta Sekartaji untuk menunggunya.

Ki Godek yang sakti menuju Desa Kalak dengan cara masuk ke dalam tanah agar perjalanannya menjadi lebih cepat, kemudian tempat Ki Godek masuk ke dalam tanah berubah menjadi sumber (teleng). Ujung dari perjalanan bawah tanah Ki Godek adalah di Desa Wirati Kalak. Ujung perjalanan bawah tanah Ki Godek tersebut berubah menjadi kedung yang banyak airnya dan dinamakan Dung Timo yang keluar di teleng (sumber) Desa Sekar.

Ki Godek berhasil mengambil air kelapa untuk Sekartaji. Setelah sampai di tempat peristirahatan Sekartaji, Ki Godek menyuruh Sekartaji meminumnya. Air kelapa pemberian Ki Godek pun diminum oleh Sekartaji namun Sekartaji masih menyisakan air kelapa tersebut dan dia menumpahkan sisa air kelapa tersebut di tempat itu. Peristiwa ini bertepatan dengan hari Senin Kliwon, bulan Selo atau Longkang ( Dzulkhijah). Sekartaji berpesan kepada Ki Godek agar menamai perkampungan di daerah tempatnya menumpahkan sisa air kelapanya tersebut dengan nama Desa Sekar dan sumbernya tempat dia menumpahkan air kelapa dinamakan Sumber Sekar.

Dalam merebut atau mencari sandang pangan (ngalap berkah) dari Pangeran atau kepada Tuhan pakailah cengkir sebanyak-banyaknya. Cengkir adalah kencenging pikir. Akhirnya setiap bulan Longkang, hari Senin Kliwon atau Minggu Kliwon diadakan peringatan ngalap berkah dengan melempar cengkir sebanyak-banyaknya, maka terjadilah yang dinamakan Ceprotan.



Ringgit Beber

Di Dusun Karang Talun, Kecamatan Donorojo, tinggal seorang dalang Ringgit Beber (wayang beber) bernama Gondolesono. Gondolesono mempunyai enam lembar wayang beber dengan lakonnya ialah Panji. Ringgit (wayang) tersebut dibuat dari kertas jawa tebal dan halus, bagus sekali, dilihat dari cat maupun bentuknya. Wayang-wayang tersebut merupakan warisan dari leluhur Gondolesono dan Gondolesono adalah turunan yang kedelapan. Adapun cerita ringgit beber sebagai berikut.

* * *

Dahulu, hiduplah seorang bernama Nolodremo. Ketika masih muda, dia mengabdi kepada Kyai Tumenggung Butoijo di tanah Sembuyan. Pada suatu hari Nolodremo mengikuti Kyai Tumenggung Butoijo hingga tiba di suatu tempat dimana tempat tersebut merupakan wilayah kekuasaan Prabu Browijoyo, Kerajaan Majapahit. Pada saat itu, Prabu Browijoyo sedang dirundung duka karena putranya sedang sakit dan sakit putranya itu telah cukup lama. Sudah berkali-kali Prabu berusaha menyembuhkan putranya dengan mengupayakan dukun, pandito, dan wasi, namun putranya tidak kunjung sembuh juga.

Pada suatu hari, Sang Prabu Brawijoyo beristirahat di pendopo. Kyai Tumenggung Butoijo menghadap beserta Nolodremo. Di tengah-tengah percakapan Sang Prabu dengan Tumenggung Butoijo, Sang Prabu menyapa Nolodremo.

“ Hai, Nolodremo. Saya sedang kesusahan karena ada putra saya yang sakit dan belum juga sembuh. Sudah banyak dukun dan pandito yang saya minta untuk menyembuhkan putra saya, sudah banyak mantra, jamu yang dimasukkan kepadanya, tetapi belum sembuh juga. Maka, coba tolonglah Nolodremo! Putra saya itu disembuhkan supaya penyakitnya hilang dan akhirnya sembuh,” Walaupun Nolodremo sebenarnya bukan dukun dan belum pernah menyembuhkan orang sakit, tetapi karena ada perintah dari Sang Prabu, ia pun menyanggupinya.

Ternyata putra Sang Prabu sembuh dari sakitnya lantaran disembuhkan oleh Nolodremo. Sang Prabu sangat senang akan hal ini. Akhirnya Nolodremo dianggap sebagai abdi kedaton yang lebih dikasihinya. Pada saat Kyai Tumenggung Butoijo akan pulang ke rumahnya, Nolodremo diminta oleh Sang Prabu untuk untuk tetap tinggal di kedaton. Di kedaton, Nolodremo dididik oleh Sang Prabu menjadi dalang ringgit beber dan Nolodremo tidak diizinkan pulang sebelum mahir menjadi dalang ringgit beber.

Ketika Nolodremo sudah mahir memainkan ringgit beber, dia meminta izin untuk pulang. Sebelum pulang, Nolodremo diberi hadiah Sang Prabu berupa ringgit beber karena ringgit beber dianggap lebih aman dan lebih tahan lama sebab lebih dapat menghasilkan setiap saat dan dapat menyenangkan orang banyak daripada emas dan Rojobrono, karena Rojobrono maupun emas mudah habis dan di perjalanan tidak aman. Selain itu, Sang Prabu berpesan kepada Nolodremo supaya dia mendidik anak-anaknya menjadi dalang agar ringgit beber tersebut tetap lestari dan supaya Nolodremo benar-benar menjalankan apa yang telah diwasiatkan Sang Prabu kepadanya.

Dalam perjalanan pulangnya, Nolodremo kehabisan bekal. Akhirnya dia memutuskan untuk mbarang (mengamen) di Pedusunan melaksanakan pentas wayang beber agar mendapatkan upah. Begitu seterusnya sampai dia tiba di rumahnya. Akhirnya Nolodremo dikenal sebagai dalang wayang ringgit dan sering diundang ke daerah-daerah lain dalam acara khitanan atau lainnya sehingga dia mendapat keuntungan banyak sekali. Setelah Nolodremo meninggal dunia, kemampuan mendalangnya masih diteruskan oleh putra sulungnya dan seterusnya secara turun temurun hingga sekarang. Adapun turunan Nolodremo yang mendapat warisan wayang beber sebagai berikut:

1. Nolodremo turunan ke-1

2. Nolo turunan ke-2

3. Samolo turunan ke-3

4. Nolongso turunan ke-4

5. Trunodongso turunan ke-5

6. Gondolesono turunan ke-6

7. Setrolesono turunan ke-7

8. Gondolesono turunan ke-8

* * *

Kotak wayang beber itu lebarnya hanya satu kaki, panjangnya empat kaki, dan tingginya satu setengah kaki. Gawang untuk panggung pada saat digelar dibuat dari kayu, panjangnya kurang lebih satu setengah meter (satu depo) dan tingginya setengah kaki. Iringan gamelannya berupa rebab, kethuk, kenong, kempul, serta kendang. Gendingnya hanya ayak-ayakan. Pada saat adegan perang, tabuhannya diperkeras tetapi jika sedang ceritan, tabuhannya hanya lamban saja. Perjalanan menggelar wayang beber waktunya hanya setengah hari saja. Misal, mulai pukul delapan dan selesai pukul dua belas.

Dari cerita Gondolesono, wayang, kotak, cempala, serta semua tetabuhan merupakan pemberian dari Keraton Majapahit. Mulai menerima semua hal tersebut dari Prabu Brawijaya hingga sekarang, tidak ada yang mengalami perubahan. Walaupun ada yang rusak, Gondolesono tidak berani untuk memperbaikinya-meski memperbaikinya tidak terlalu sulit-sebab dia masih mempunyaii keyakinan bahwa semua watyang atau satu unit tabuhan itu masih merupakan barang yang dianggap keramat maka tetap takut dengan siku bilahinya.

Disadur dari Babad Tanah Pacitan & Perkembangannya, dengan beberapa perubahan.



KETHEK OGLENG

(Cerita Rakyat dari Kecamatan Nawangan, Pacitan)

Kethek (kera) adalah binatang yang hidup di hutan bersama binatang-binatang hutan yang lain. Kethek Ogleng adalah sebuah tari yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek (kera). Tarian ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi Kecamatan Nawangan bertahun-tahun lamanya. Biasanya tarian ini dipentaskan pada waktu hajatan masyarakat setempat. Tarian Kethek Ogleng ini berasal dari sebuah cerita Kerajaan Jenggala dan Kediri.

* * *

Raja Jenggala mempunyai seorang putri bernama Dewi Sekartaji dan Kerajaan Kediri mempunyai seorang putra bernama Raden Panji Asmorobangun. Kedua insan ini saling mencintai dan bercita-cita ingin membangun kehidupan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Hal ini membuat keduanya tidak dapat dipisahkan.

Namun, raja Jenggala, ayahanda Dewi Sekartaji, mempunyai keinginan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahandanya-yang tentunya tidak dia cintai, dia diam-diam meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang ayahanda dan seluruh orang di kerajaan. Malam hari, sang putri berangkat bersama beberapa dayang menuju ke arah barat.

Di Kerajaan Kediri, Panji Asmorobangun yang mendengar berita menghilangnya Dewi Sekartaji memutuskan untuk nekad mencari Dewi Sekartaji, sang kekasih. Di perjalanan, Panji Asmorobangun singgah di rumah seorang pendeta. Di sana Panji diberi wejangan agar pergi ke arah barat dan dia harus menyamar menjadi kera. Sedangkan di lain pihak, Dewi Sekartaji ternyata telah menyamar menjadi Endang Rara Tompe.

Setelah Endang Rara Tompe naik turun gunung, akhirnya rombongan Endang Rara Tompe, yang sebenarnya Dewi Sekartaji, beristirahat di suatu daerah dan memutuskan untuk menetap di sana. Ternyata kethek penjelmaan Panji Amorobangun juga tinggal tidak jauh dari pondok Endang Rara Tompe. Maka, bersahabatlah mereka berdua. Meski tinggal berdekatan dan bersahabat, Endang Rara Tompe belum mengetahui jika kethek yang menjadi sahabatnya adalah Panji Asmorobangun, sang kekasih, begitu juga dengan Panji Asmorobangun, dia tidak mengetahui jika Endang Rara Tompe adalah Dewi Sekartaji yang selama ini dia cari.

Setelah persahabatan antara Endang Rara Tompe dan kethek terjalin begitu kuatnya, mereka berdua membuka rahasia masing-masing. Endang Rara Tompe merubah bentuknya menjadi Dewi Sekartaji, begitu juga dengan kethek sahabat Endang Rara Tompe. Kethek tersebut merubah dirinya menjadi Raden Panji Asmorobangun. Perjumpaan antara Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun diliputi perasaan haru sekaligus bahagia. Akhirnya, Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun sepakat kembali ke kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.
Reaksi:

3 komentar:

  1. makasi banyak ya? ke betulan saya turunan pacitan yang blum tau cerita rakyat pacitaan. numpang copy paste ya?

    BalasHapus
  2. mksh ceritnya kebetulan aku ga, tahu cerita rakyat paciran,, yen wonten mbok di unggah cerita tentang ki ageng buwono keling kaleh kiageng petung,,

    BalasHapus